Mau kemana setelah lulus dari jurusan Teknologi Pendidikan?
Suatu ketika salah seorang pakar e-learning bertanya: Kalau lulus Teknologi Pendidikan kamu mau jadi apa?
Beberapa orang mahasiswa Teknologi Pendidikan yang memilih konsentrasi Pengembang Media dan Teknologi Kinerja yang ada ketika itu menjawab: Kepala sekolah, guru TIK, pembuat animasi, flash, buat film, kerja didiklat, dsb.
Lantas kemudian ditanya kembali: ‘Lha.. kalo jadi guru TIK apa kompetensi kalian? Toh anak IT yang ada dibidang itu, kalaupun Kepala Sekolah, anak Manajemen Pendidikan yang dibidang itu, kalo dibidang animasi, flash, dsb bukankah anak ‘creative’ yang membidangi itu, dan kalau kerja di diklat bukankah HRD dipegang oleh anak psikologi. Lantas dimana donk kalian?
Kasus seperti di atas tidak jarang terjadi… Di saat hendak PPL, masih dapat ditemukan kurangnya pemahaman tentang konsepsi Teknologi Pendidikan pada mahasiswa (meski tidak semua lho..). Padahal jika kita memahami benar apa itu teknologi pembelajaran, tidak sulit memberitahukan kepada pihak institusi tempat dimana kita PPL bahwa kita ini adalah ‘desainer pembelajaran lho pak..analis media pembelajaran lho pak, desainer pelatihan yang oke lho bu, pembuat media pembelajaran yang tiada duanya lho, perekayasa pembelajaran, dan paling tahu masalah belajar dan pemecahannya, dan pastinya entrepreneur di bidang edukasi, mengerti teknologi kinerja dan learning organization lho bu..’
Kalau pihak institusi terkait mempertanyakan apa landasan kita? teori apa yang melandasi? Tinggal kamu berikan definisi AECT terbaru, plus 5 kawasan TP, lalu jelaskan dengan singkat dan siap-siap ditanya ini-itu. Itu sudah cukup. Namun tentu saja kesemuanya ini perlu dikomunikasikan dengan baik (sayang tidak ada mata kuliah khusus tentang ini…kapan yah ada mata kuliah ‘komunikasi pendidikan?’ beda ama PTKI lho…)
Lain kesempatan, TP sering dikaitkan dengan eLearning, blended learning, dsb..pokoke yang berbau hi-tech deh.. Pokoke ICT dalam dunia pendidikan.. Keren memang kedengarannya.
Saya sendiri pada awalnya sangat tertarik dengan bidang itu…hingga suatu ketika salah seorang pakar e-Learning mengatakan pada saya: ‘Kalau kamu berpikir eLearning hanya sekedar membuat website yang mempertemukan dosen dengan mahasiswa via online, membantu pelajaran diluar perkuliahan, anak SMK juga bisa.. Tinggal install moodle atau lainnya, belajar tutorial online-nya, upload lalu jadi deh..Hanya itu saja?’
Yang membedakan seorang S1 dengan SMK dan D3 adalah konsep. Sebagai contoh, jikalau dikau, sebagai seorang mahasiswa S1 Teknologi Pendidikan yang memang menggandrungi apa itu web based learning, blended learning, dsb, maka baiknya pola pikir untuk skripsi hendaknya di-set: ‘Saya harus menemukan sebuah modelyang sesuai untuk pembaharuan di dunia e-learning’. Maksudnya, cara berpikir berorientasi pada model, bagaimana arsitektur pembelajaran eLearningnya, jalur-jalur dan tahapannya.. bukan berorientasi pada tools/software… Bukankah kitalearn with technology? coz we’re tpers.. bukan IT kan?
Yang ahli teknologi adalah IT-ers
Tapi yang ahli dalam penggunakan teknologi tuk pendidikan adalah TP-ers
Yang ahli membuat visual menarik untuk komersial adalah Des Grafis
Tapi yang ahli dalam memahami pembuatan media pembelajaran adalah TPers
Yang ahli dalam mengajar adalah guru
Tapi yang ahli mendesain kurikulum adalah TP-ers
Yang ahli dalam konsultasi masalah siswa adalah psikolog pendidikan
Tapi yang ahli dalam hal menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan, itu adalh TP-ers
Coz we’re Learn how to Learn

